Showing posts with label SETH IN DIALOGUE. Show all posts
Showing posts with label SETH IN DIALOGUE. Show all posts

Pastiche

SNAP 'SHOT' @ TONY ROMA'S, The Curve
I: Hey babe, are you…still in that..avoiding stage? Aku: Haha. What do you think? I: What I think could be wrong. Aku: Trust your guts dude. I: Hmm. They plan a birthday bash for me. Aku: Cool. Walaupun birthday you Disember tahun lepas. Sure, cool. I: I don’t know if you wanna come. Aku: Hehe. You guys have fun. We all know how it’s gonna be if the ‘spoiler’ is there. I: But I really want you to come though. But I want no sour faces either. Aku: I won’t be there dude. But I will hang out with you after k? I: Dia ada tanya pasal you. Aku: Sapa dia? I: H**** Aku: Oh. I takda masalah dengan you or H****. I: …err Aku: It’s alrite dude. I don’t need em’ (A**,A***,H**) pretentious-back-stabbing-goody-doers to make me happy! I: Maggi goreng ko masin tak?

BABI tak?

burrito yang murung

alcohol content: 47%
Dan semasa dia menghayati ciuman itu, hati aku menjerit:
Di mana kau? Di mana kau satu-satunya manusia yang aku damba? Tahukah kau aku di sini sakit, menahan rindu!
Tak..kau tak tahu itu semua.
Aku hanya boleh berkata pada hatiku:
I'm only doing this to forget you.

Happyness to Pursue #2

Self-Made Stranger in KLPAC
"Frankly my dear, I don't give a damn"
Clark Gable as Rhett Butler in Gone With the Wind.
(Satu hari di di kaca TV rumah si F, video ‘Aku Di Mercu’ nyanyian Ayu One in a Million terpampang berkumandang)
Rahman: Huduh sekali penyanyinya… Aku: Haha…(Hey Labu! Cermin diri sendiri dulu, bole?) Rahman: Iya, selalunya penyanyi sok kayak gini, genetiknya bagus² aja Aku: Bosan la asyik tengok orang cantik je, kalau macam tu Rahman: Bener juga, hehe. Er…mercu tu, apa ya? Aku: Er…mercu tu, macam..puncak. Ye, puncak. Rahman: Oh.
(Di suatu perbualan yang lain, kami mengangkat perbualan ke satu tahap yang lebih kasar. Topiknya, depressing belaka. Suara Rahman, tak bermaya)
Rahman: Kamu tau Madz, hidup ini bagai… Aku: Bagai apa? Rahman: Bila kamu terasa susah…sangat susah…itu maknanya kamu sedang mendaki, dan naik lebih tinggi Aku: (diam, fokus) Rahman: Dan bila masa kamu merasakan hidup kamu senang dan indah aja, maka, itu bermakna kamu sedang menjunam..hidup ini kayak mendaki gunung…kita selalu aja bertarung untuk sampai ke ‘mercu’. Aku: Heh…setuju!
(Bijak jugak kau ni Labu!)

Happyness to Pursue #1

The power of Arip's wide angle lense
us R-L: Wani, Si Boolat, Fan
Final Attackers L-R: Indra, Joneh,Widi, Andri, si drummer, Ihsan
Happiness, pada aku mungkin sesuatu yang mudah untuk dicari, tapi bukan mudah untuk dikecapi. Aku percaya itu. Dalam hidup aku, akan selalu ada satu fasa, di mana aku akan merasa sangat-sangat bahagia. Tapi perasaan itu pula akan selalu diikuti dengan incident² yang mencabul terus kebahagiaan itu dari aku. Dan aku perasan juga, yang kalau aku merasa bahagia, kekalnya tak lama. The last time that I think was the happiest moment for me was how ‘Dia’ would stroke and smell my hair everytime before he sleeps. Aku tak tau apa perasaan itu sebenarnya. Kami pada waktu itu tidak bercakap sepatah pun, tapi bahagianya… out of body experience.
Perasaan yang aneh. Aku mahu menghentikannya, tapi aku tak bisa. Ah! kisah lama, boss. Dua minggu yang lalu, kehidupan aku yang bosan ini telah diwarnakan kembali. Perasaan itu bukanlah perasaan macam yang aku rasakan dengan Dia, tapi ia cukup untuk buat aku bahagia sekali. Semuanya gara-gara kedatangan anak-anak band hardcore dari Jakarta, yang ke sini untuk berkongsi musik dan idea mereka. Kesemua mereka yang aku kenal – Indra, Andri, Joneh, Widi & the drummer (sorry dude, I forgot!), Rahman dan Acha – bermalam selama seminggu di rumah si F. Selama mereka di sana, kami banyak bercerita. Dan antara yang paling aku ingat, adalah perbualan aku dengan si Joneh dan Rahman. Mereka berdua ini, somehow, lebih senang untuk didekati (mendekati aku), berbanding yang lain-lainnnya, yang tampak lebih...hmm...pasif untuk memulakan perbualan. Aku ingat satu ketika bila aku turun ke tingkat 5 rumah si F untuk minum (er, kat rumah F di tingkat 5, ada satu mamak yang buka 24 jam). Di sana aku terserempak dengan mereka semua tapi mereka duduk bersama dengan anak-anak band yang lain, membuatkan aku jadi kaget untuk menerjah masuk. Kekok rasanya. Sebagai seorang Gemini, aku memang dilahirkan peramah dan pandai gaul, tapi entah, malam itu aku malas. Jadi aku duduk sendiri. Di meja yang lain. Sampoerna hijau di tangan kiri, teh o' kosong panas di kanannya. Tak lama selepas tu, aku nampak kelibat si Joneh. Yang kurus, yang tinggi, yang berkulit cerah, yang bertatu dan juga yang sangat up-and-coming sketch artist. Bersahaja dia menegur aku, dengan muka goofynya. Joneh tanya kenapa tak sertai mereka semua. Aku tipu kata aku tak perasan dan aku serabut dengan kerja (ini betul boss, sebab aku balik kerja pukul 12 malam tu). Anywhoo...Joneh memulakan perbualan. Dia cerita tentang gig mereka di Ipoh malam sebelumnya dan macam² la. Tapi dalam banyak² tu, aku paling ingat cerita tentang seorang perempuan, yang Joneh kagumi. Jangan silap boss, si Joneh sudah berpacaran. Perempuan yang Joneh ceritakan tu bukan awek dia, yang dia jumpa di satu kelab di Jakarta. Perempuan tu mabuk. Terlampau mabuk sehingga perempuan ini introduce dirinya empat kali (facts: drunk women=horny women). Empat tahun selepas pertemuan di kelab, si Joneh terjumpa perempuan ni di MySpace. Joneh tinggalkan private message, itu pun sebab dia suka dengan caption di gambar perempuan ini yang sangat gerek sekali. Perempuan tu balas, menandakan dia masih ingat pada Joneh. Mereka berbual di telefon selama 12 jam dan ketemu beberapa kali. Dan Joneh, terus terpaut dengan kegilaan, kepelikan dan kepandaian perempuan ni. Kata si Joneh, dia jatuh cinta pada soul perempuan ini, bukan seksualiti-nya. Dan dia tidak pernah langsung inginkan sex or anything else with her. In Joneh’s own words “I admire her”. “Wow. Si Joneh ini bukan sebarang,” hati aku berbisik. Aku kata begitu, bukan sebab apa. Tapi aku memang kagum melihat Joneh. Kebolehan dia mentafsir kecantikan manusia dari lubuk paling dalam itu bukan sesuatu yang dimiliki setiap orang. Tambah lagi zaman ini yang kebanyakannya bergantung pada sifat artificial untuk mencapai apa pun. Aku sendiri kadang² tergelincir, mengagumi mereka yang chantek dari luaran (oh heck, look who's talking!). Dan aku akan selalu teringat cerita ini tentang Joneh. Dalam masa satu jam, dia sudah redefined arti apresiasi. Untuk kamu menghargai sesuatu, ia tidak perlu cantik pun. Ia hanya perlu cerita atau sejarah (good, bad or worse, regardless) yang berbaloi untuk diingati dan untuk kamu berikan makna yang tersendiri. Simple as that. Tapi cerita si Joneh ni bukan sahaja berbaloi untuk aku ingati. Lebih penting, pada aku, ia selalu buat aku tenang dan tersenyum sendiri tatkala aku down memikirkan bagaimana judgmental-nya manusia.
Hmm...Perasaan yang aneh. Aku mahu berhenti mengagumi Joneh, tapi tak bisa, beb. Thanks for the lesson Joneh! Missin’ ya already.
TO BE CONTINUED...

oi, do not cheerios me yet!

PENYESALAN GAYA SANTAI @ VISTANA
Sebelum pulang dari kerja semalam, kepala aku dirundung dengan segala macam benda. Perkataan 'dirundung' selalunya pula, diikuti dengan perkataan 'malang'. Belum pernah lagi aku jumpa dalam mana² ayat yang berbunyi 'dirundung kebahagiaan' selama aku membaca buku, majalah, suratkhabar atau apa pun, untuk 25 tahun aku hidup. So, kau boleh imagine perasaan aku semalam, bukanlah satu benda yang...mengujakan, langsung. Semuanya datang secara rawak dan spontan. Kutipan observation aku tentang sesuatu, selalunya akan mencetus satu aliran memori perit, yang kadangkala boleh merentas masa samada ke belakang atau ke hadapan, yang akhirnya terus membuat aku paranoid android,depress.
Ternyata, dengan perasaan yang berat di benak dan kepala aku (dan bekalan dadah pelali yang tak berapa nak ada), aku tidak boleh tidak, kena bercakap dengan seseorang. Nasib baik jugak, dekat ofis aku ni, ada satu aplikasi e-mail canggih. Cukup canggih untuk ada sametime (imagine YM, cuma aku hanya boleh ber-chatting dengan rakan se-BANK ini sahaja). Di dalam list sametime aku, ada lebih kurang 21 orang teman sekerja. 8 darinya teman sekerja CCD. Selebihnya, teman² sekerja yang sama² menempuh kehidupan sebagai trainee setahun dan beberapa bulan lampau. Di antaranya pula, aku mungkin rapat dengan 6 orang sahaja. Mereka itu, aku gelar lunch clan. Datang aja masa lunch, tak perlu kau tanya aku makan mana atau dengan siapa, sebab aku hanya ada lunch clan dan bangunan MAS.
Berbalik pada isu asal - aku harus bercerita dengan seseorang - dan seseorang yang aku pilih itu, tak lain tak bukan si A. Ada apa dengan A? Hmm. Tough! And easy at the same time. Tough, sebab mungkin dia akan baca blog ini (mungkin). Easy, sebab si A ini, in short, adalah kriteria lelaki yang pada aku, almost perfect.
Cukup sampai situ tentang A.
So, berlandaskan seleksi yang agak peribadi, aku memutuskan untuk confide in A.
sethist: how do u learn to, say forget someone? 16:12:32 A: sorry for the late reply, i was away from my desk 16:12:57 sethist: i dont expect hasty answers either 16:13:03 sethist: take ur time 16:13:12 A: hmm forget someone.. 16:13:34 sethist: if not forget...maybe just..u know learn to forgive 16:13:39 sethist: u seem pretty good at that 16:13:41 A: yeah, it's tough 16:13:46 A: good? hehe 16:14:01 sethist: u gotta b good 16:14:10 A: you know the saying patience is a virtue? 16:14:11 sethist: a'huh 16:14:35 A: usually it's followed by forgiveness is divine 16:14:54 A: so i'm guessing to forgive someone...is pretty hard on a human level hehe 16:15:23 A: but for me, i'm sensitive so if someone hurts me, i tend to avoid them. A: so i don't get hurt even more 16:16:03 A: but if we get to talking and they apologize and recognize their mistake, A: then i'm open to forgiving them 16:16:20 A: as long as we talk about it, i guess i'm ok with it after that 16:16:20 (Conversation di atas berlangsung sehingga 17:37:38)
Hmm.
Terus-terang aku katakan, apa yang A utarakan di atas bukanlah sesuatu yang extraordinary. Kamu mungkin akan cakapkan benda yang sama. Malah aku sendiri tahu jawapan kepada soalan² aku tu. Tapi kamu harus faham, yang kadang² apa yang kita perlukan, hanyalah seseorang untuk mendengar (atau ayat yang lebih kasar adalah..hmm..attention). Cuma, lainnya A dari kebanyakan manusia, dia tak terburu-buru memberi jawapan. Ada sebab kenapa aku letak timestamp di setiap baris ayat tadi. Kalau kamu bijak, kamu akan nampak jarak masa seminit dua. Tak lama kamu bilang? Kamu silap. Tanya teman kamu sesuatu, dan suruh dia jawab seminit atau dua minit selepas itu. Apa yang kamu rasa, kamu nilaikan sendiri.
So anywho, "adakah aku merasa lebih baik selepas chat dengan itu?" tanya kamu semua.
WELL,WELL..
Cukup baik untuk aku cuba² naikkan kepala, cuba² naikkan suara, tepuk dada dan teriak...SIAPA PUNYA!!!
 

Blog Template by YummyLolly.com
Sponsored by Free Web Space